I DO CARE, REALLY

July 18, 2009 - Leave a Response

Gue— gue mau marah boleh? Gue mau ngeluarin unek-unek gue boleh? Tapi masalahnya, ini tentang kalian. Kalian yang berusaha untuk gue sayangi, dan gue dekati, tapi kalian tak acuh, sehingga saya tetap— membenci.

Betapa gue berusaha mencintai NetWorld gue, betapa gue selalu berusaha untuk memahami kalian, untuk memaklumi kalian, tapi sayangnya— iya sayangnya, gue tidak bisa. Gue tidak dilahirkan untuk menjadi manusia yang ekstra sabar sehingga bisa memendam semua kemarahan gue, kejengkelan gue dan kernyitan yang selalu bersarang di dahi gue ketika kalian mulai meracau. Iya, gue sebut meracau. Jahat kan gue? Karena kalian memaksa gue bertopeng, kawan. Dan gue jahat, karena gue benci NW.

List Y!M yang selalu saja membuat gue muak, pundung, dan tersisih. Dari 72 list Y!M—yang notabene gue kelompokkan terpisah karena kalian NW friends gue (seharusnya)—berapakah yang secara rajin IM-an sama gue? Berapa? Berapa? BERAPA? Seperempatnya bahkan gue hitung belum tidak sampai. Lucu, silahkan tertawa. Prinsip gue nih ya, gue punya Y!M kalian karena setidaknya gue kenal kalian, sapa gue dan gue dengan senang hati akan ngobrol dengan kalian meskipun gue bertopeng. Nice, dan FYI gue selalu senyum kok meskipun terpaksa. Selama kalian baik sama gue, selama kalian tidak mengusik gue lebih lanjut, gue tidak akan berkoar-koar MARAH kepada kalian.

Dan tanyakan kenapa gue marah pada kalian kali ini.

Satu, karena gue kesal kepadanya. Ia siapa? Ah, gaperlu gue sebut nama disini, cherie. Dia— betapa gue ingat dia dulu baik banget sama gue. Betapa gue menaruh respek tinggi ke dia. Betapa gue menyayanginya. Tapi sekarang, apa? APA? Gue sampah buat lo, iya kan, Mio Caro? Silahkan lo stab gue dari belakang, Mio Caro. Silahkan lo pamer ke gue tentang temen-temen lo, keluarga lo. Gue mempersilahkan lo dengan setulus hati gue. Dan catatan khusus-nya, gue tidak iri dengan segala cerita lo. Tapi gue beginilah adanya, Mio Caro. Tidak akan pernah bisa selamanya berbaik hati— ibaratnya dinamit, lo udah menyalakan sumbu dinamit itu— dan bukannya lo malah mematikannya, lo menyiramnya dengan bensin lagi dan DUAR! Gue meledak, Mio Caro. Sekarang. Meskipun gue yakin, lo ga akan pernah baca ini dan lo juga tidak akan pernah sadar apa yang gue rasakan ke elo.

Kedua, yang pasti. Jangan. Pernah. Invite. Gue. Ke. Conference. Apapun. Kecuali. Khusus. Asrama. Iya, jangan pernah karena GUE TIDAK KENAL MEREKA. Mau jadi apa gue disana hah? Kambing congek? Jadi orang yang totally invisible padahal gue ada disana? Gue disana. NICK ATHIAA ADA DISANA! Dan jadi apakah gue disana, kawan? Gue jadi invisible, hanya sang pembaca conference. Tidak ada interaksi sama sekali, kecuali di awal-awal. Bahkan untuk sekedar menyapa aja, tidak ada. Sekali lagi, gue berikan senyuman manis gue untuk kalian, kawan. Manis, namun sarkastis.

Dua contoh diatas seharusnya sudah lebih dari cukup untuk membangkitkan kemarahan gue, kalo itu gue yang dulu. Tapi kini gue lebih memilih untuk diam di balik laptop gue dan hanya mengamati. Hidup sebagai sang pengamat yang selalu tersenyum manis, bertopeng pula. Dan gue awalnya memilih untuk membiarkan saja, membiarkan untuk tetap berjalan apa adanya. Meskipun— gue muak. Muak banget.

Hmm, gue kembali menghela nafas. Berkali-kali, berulang-ulang. Helaan nafas yang keras itu membuktikan bahwa gue sudah terlampau lelah untuk berpikir, jadi gue memilih meng-iyakan. Hanya sebuah anggukan serta senyuman kecil yang menyiratkan ekspresi setuju akan kepedihan yang tidak bisa gue share ke semua orang ini dan menyedihkannya lagi gue alami.

Hello people, I am here.

Gue, selalu ingin memberikan nasihat untuk mereka, kawan-kawan NW gue yang selalu saja mengeluhkan apapun. Terutama mengenai RW mereka. Betapa menempelnya di otak gue, mereka selalu mengeluhkan RW mereka yang katanya mereka tidak dihargai oleh orang-orang di RW mereka. Dan gue marah, jelas. Karena gue merasa dihargai oleh orang-orang yang ada di RW tetapi tidak dengan di NW. Setidaknya dulu gue membanggakan NW gue, tapi pada kenyataannya apa? Senyum manis lagi kan gue?

Ppl, after all hidup itu menyenangkan kok. Maupun RW sama NW kan keduanya harus berjalan, berkesinambungan. Kita hidup di Realworld people, meskipun lo berusaha menyebutnya Networld tetap saja hitungannya adalah Realworld. Kita, manusia. Makhluk nyata. Bukan chara-chara fiktif yang kalian bikin itu. Kita hidup, kita ada. Kita nyata. Dan kita real. Sebenci-bencinya lo sama RW lo, lo akhirnya akan berpulang pada mereka. Sebenci-bencinya lo pada keluarga lo, sadar ga sih kalo mereka the one and only yang akan care sama lo? Meskipun lo punya aib sebagaimanapun, sebesar apapun. Cuma mereka yang bisa nerima lo, terutama orang tua lo. Karena lo darah daging mereka, kawan.

Rumput tetangga memang lebih hijau, kok.

Kalian sadar? Kalian tahu sebenernya. Cuma hati kecil kalian tidak bisa menerima dan terus lari. Padahal ya, hidup itu tantangan, dan harus dijalani. Bukannya mesti lari begitu saja. Memangnya kalian bisa memilih antara RW dan NW? Jadi kalau kalian benci sama RW kalian kabur ke NW dan begitupula sebaliknya? Cih, ga gitu juga kali. RW dan NW harus berkesinambungan, bagaikan Yin dan Yang mereka saling melengkapi. Gue benci NW dan gue berusaha lari. Tapi buktinya gue tidak lari dan berusaha menghadapi apapun resikonya. Meskipun itu nyakitin hati gue sendiri. Gue masih disini, begitupun dengan keadaan Realworld gue. Gue masih bertahan di keduanya.

Tidak bisa pergi, hanya mengurangi. Dan jangan jadikan mereka berdua pelarian. Terutama NW, kalo boleh jujur. Karena hidup lo ga selamanya akan di Networld, hidup lo akan tetap di Realworld, berputar terus di Realworld. Karena juga, Networld bagian dari Realworld. Kalian tidak bisa benci realworld kalian begitu saja. Dan begitu pula gue, sebenci-bencinya gue dengan kalian, tahukah kalian gue sayang kalian?

Gue sayang kalian, sungguh. Karena Networld bukan hanya milik gue tapi milik kita. Kita teman, dan seharusnya saling mengerti. Gue harap kalian mengerti. Tidak mesti sekarang, tetapi suatu hari nanti. Semua bisa berubah, tentram dan lebih bersahaja serta hangat. Gue sungguh berharap itu. Tidak ada membicarakan orang lagi dibelakang, tidak ada keluhan berlebih. Dan gue akan makin sayang lagi dengan kalian.

Advertisements

Edan. Puas?

June 3, 2009 - Leave a Response

Okay, Hello and Goodbye.

Mati lo sana, pindah aja ke dunia lain Thi.

Nah itu tuh buktinya gue makin meracau akhir-akhir ini. Sangat meracau FYI. Gue mengulang lagi semua kata-kata yang ada dan pernah singgah di otak gue dan merangkainya menjadi kalimat-kalimat rancu tidak berurutan sedari kemarin. Sayangnya ketika gue malah berhadapan dengan laptop gue tercinta ini, kata kata itu menguap, frasanya apalagi, hilang begitu saja.

Oke, gue beneran bukan contoh penulis yang baik. Gue bukan orang yang bisa mendeskripsikan sesuatu dengan amat bagus (apalagi sejak gue ikut IH gue makin sering jiper lihat tulisan orang). Nah, kayak gini nih yang gue maksud, topiknya ngalor ngidul ngetan ngulor. Oke, stop pelajaran bahasa jawanya, btt by the way.

Nah itu tadi, sebenernya yang bikin gue stress ialah ikut IH itu sendiri. Gue itu tipe-tipe orang yang bukannya malah tertantang ngeliat postingan orang yang bagus abis tapi malah jiper dan ga minta main lagi. Kalo gitu apa kabarnya Kimiko Heath, oh well bye bye darling. Sumpah, gue pengen abis unregis itu chara gagal satu sebenernya. Pengen sepengen-pengennya umat, tapi gue butuh sumber bahan bacaan lain, contohnya aja ya IH itu tadi. Ikut IH berasa kayak punya novel sendiri, ada sumber bacaan lain.

TAPI GUE BENCI.

Nah lho.

Udah ah, lupakan lupakan. Gue meracau lagi, nanana—

Gue makin ga waras deh kayaknya.

Perasaan ya, beberapa hari lalu hidup gue normal-normal aja. Kok sekarang malah meracau ga karuan gini? Bawaannya oke, pengen ngomel mulu. Apalah kata-kata kebun binatang dan konco-konconya pengen abis gue keluarin. Oh men, gue makin ga waras. Gue ga pernah juga yang pernah maki-maki orang kok, tapi maki-maki diri sendiri sering. Gue orang yang temperamen tapi ga pernah bisa ngeluarin perasaan marahnya. Nah, itu gue.

Lama-lama mending gue mati aja deh beneran.

ARGH!

Segalanya bikin gue muak beneran. Dunia yang sempit abis, yang monoton. Sumpah gue bosen sebenernya haha hihi kanan kiri, bersikap ramah, ngeluarin lagi topeng gue itu. Njir, gue bosen banget. Maunya ya kalo gue lagi emosi ya gue keluarin semuanya. Ga perlu mikir-mikir lagi siapa aja yang gue teriakin. Dan ga peduli apa yang bakal mereka pikirin soal gue. Gue bejat-kah, jahat-kah, sadis-kah, rese-kah, nyolot-kah. Peduli setan.

Nah, gue pengennya sih gitu.

Sayangnya, iya sayangnya gue gabisa. Gue, katanya orang-orang terlalu memikirkan apa yang orang lain pikirin soal gue. Gue orangnya gampang ga enakan, salah dikit gue pasti gaenaknya bisa sampai kapan tau, yang pasti lama. Gue akui itu semua bener deh. Gue orangnya hobi memendam semuanya dalam diri. Daripada orang lain yang akhirnya malah sebel ke gue karena gue curhatin? Oh no way.

Kalo lo tanya siapa Kimiko. Dia itu gue. Dia itu gue versi mulut asal jeplak, dia itu hati gue, satu sisi gue yang gabisa gue keluarin di Real World. Nah kalo hubungan Kim Belle yang begitulah, itu bentuk gue dalam dunia nyata. Kimiko sayang Belle meskipun dia ngomel-ngomel sendiri dalam hati karena keimbisilannya Belle. Nah gue juga gitu.

Ah gila, gue malah makin meracau aneh.

Ga, gue bukan anak muka dua jelas. Gue ya gue. Cuma akhir-akhir ini sisi gue yangsatu lagi kayaknya sedang merasuki gue lagi, membuat sisi gue yang lainnya berusaha keras untuk mengusir dia yang keji itu dari dalam tubuh gue.

Gue keji? Emang.

Damn, gue muak beneran. Kenapa sih gue gajadi kayak dulu aja, tipikal anak manis yang care sama semua orang tanpa memaki-maki dibaliknya? Itu kan jauh lebih asik, dan menyenangkan. Biarkan sisi keji gue merasuk ke Kim semua, ga usah racuni gue lah.

Ck. Sumpah gue benci.

Ngaco-ing

June 1, 2009 - Leave a Response

Thiul-o-logy
“Sebuah cabang Ilmu AnimaBiologi.”
*shot*

Rules: Let others know a little more about yourself, re-post this as your name followed by “ology”

*****************FOOD-OLOGY*****************

What is your salad dressing of choice?
Ga doyan salad, cuma suka mayonaisenya aja

What is your favorite sit-down restaurant?
Apa aja yang penting enak =))

What food could you eat for 2 weeks straight and not get sick of?
Permen mint :))

What are your pizza toppings of choice?
Lupa namanyaaa

What do you like to put on your toast?
Meses Coklat, gapake roti juga bisa :3

*****************TECHNOLOGY*****************

How many television sets are in your house?
Ti-ga. Tapi gue lebih suka di depan lepi

What color cell phone do you have?
Putih ada hitam dikit, juga ada orange-nya

******************BIOLOGY*********************

Are you right-handed or left-handed?
Right Handed

Have you ever had anything removed from your body?
Rambut, gigi

What is the last heavy item you lifted?
Laptop :3

Have you ever been knocked unconscious?
Jangan sampe, amit-amit jabang bayi

*****************BULLCRAPOLOGY**************

If it were possible, would you want to know the day you were going to die?
Live the Life, gue gamau tahu

If you could change your name, what would you change it to?
Ga ah, gue suka nama gue sekarang :3

Would you drink an entire bottle of hot sauce for $1000?
GUE GA KUAT MAKAN PEDEEES, dibayar berapapun ogah!

*****************DUMBOLOGY******************

How many pairs of flip flops do you own?
err— cukup banyak
Last person you talked to?
Adek gue

Last person you hugged?
Lupa, Lely mungkin itupun udah beberapa hari lalu

*****************FAVORITOLOGY******************

Season?
Hujan, selalu

Holiday?
LIBUR PANJANG =))

Day of the week?
Sabtu dong ah

Month?
Mei, dan bulan dimana hujan turun :3

*******************CURRENTOLOGY*****************

Missing someone?
Iya, Tisa

Mood?
Hampa

What are you listening to?
Those Sweet Words – Norah Jones

Watching?
Ini, laptop :3

Worrying about?
Many things

***************RANDOMOLOGY*****************

First place you went to this morning?
Dapur

What’s the last movie you saw?
Juno

Do you smile often?
Tauk dah :))

*****************QUESTIONS*******************

Do you always answer your phone?
Kalo kedengeran dan gue lagi ga males, gue angkat :3

It’s four in the morning and you get a text message, who is it?
Kagak ada paling, males nerima sms

If you could change your eye color what would it be?
Hazel

What flavor do you add to your drink at Sonic?
What is Sonic?

Do you own a digital camera?
Punya bokap, dan gue ilangin -_____-

Have you ever had a pet fish?
Punya keluarga, tuh di kolam belakang 😀

Favorite Christmas song?
Idul Fitri deh, gue Islam :3

What’s on your wish list for your birthday?
DSLR Canon EOS 450D

Can you do push ups?
Yup

Can you do a chin up??
-____-

Does the future make you more nervous or excited?
Excited of course

Do you have any saved texts?
Wogh, million. Many kind of texts.

Ever been in a car wreck?
Not yet

Do you have an accent?
Adaaaa, tapi gue gamau mengakui

What is the last song to make you cry?
Deadly Storm Lightning Thunder – Adhitia Sofyan’s

Plans tonight?
Maunya bikin puisi, tapi entahlah

Name 3 things you bought in the last week
Apa ya? Lupa ≪ Short term memory *ditabok*

Have you ever been given roses?
*angkat bahu*

Current worry?
Apa kabar UAN? Apa kabar kartul? Apa kabar essay sejarah sihir?

Apa kabar Kimiko Heath? Apa kabar Engela Provenzano?

Current hate right now?
Manusia-manusia yang yah— begitulah

Met someone who changed your life?
Yes, some of

How did you bring in the New Year?
-______-

What song represents you?
Live The Life – Nostrovia

Name three people who might complete this?
Siapa aja dah, males gue menamakannya

What were you doing 12 AM last night?
Masih melek dengan perasaan hampa

What was the first thing you thought of when you woke up?
Jam berapa nih?

About a cake, a rain and also about myself

May 29, 2009 - Leave a Response

 

Image Hosted by ImageShack.us 

image from here

17 years. Was it all worth, Athiah?

Buat gue, mengulang hari lahir gue bukanlah suatu kesenangan yang mestinya dirayakan. Ketika jarum jam berdentang ketika menunjuk angka-nya, angka dimana hari jadi itu sudah tiba, kedua jarum kurusnya menunjuk angka yang sama, gue malah berjengit. Membayangkan betapa tuanya gue sekarang ini. But, Thanks God I am still alive. Klise, tapi inilah kenyataannya. Gue berusaha me-rewind ulang apa yang sudah terjadi di masa lalu. Baik, buruk, suka, duka, tawa, tangis, semua ingatan bercampur hari ini. Sweet seventeen kata orang. Gue meng-iyakan itu tentu. Siapa yang tidak senang ketika ia menginjak usia 17 tahun? Gue pribadi senang kok, jujur. Hanya saja, renungan akan masa lalu dan bayangan masa depan yang masih samar menghantui gue lagi, untuk kesekian kali.

Ketika gue berkaca lagi tentang siapa gue, gue merasa diri gue menjadi seorang yang abstrak. Tanpa arah, tanpa tujuan. Cuma satu hal yang gue tahu, gue ingin bahagia. Itu bisa disebut tujuan? Kalaupun iya, gue tidak pernah menemukan arah itu, selama 17 tahun gue hidup. Atau mungkin secara tidak sadar telah menjalani arah itu, hanya saja gue tidak sadar sama sekali. Naas.

Siapa gue? Dengan santainya gue akan mendeskripsikan diri gue sebagai orang yang datar, tatapan datar dengan nada datar. Benarkah? Gue gatau, gue tidak bisa mendeskripsikan diri gue sendiri sebenarnya. Gue bahkan tidak tahu siapa gue. Bukannya merasa hampa, tapi aneh. Cih lupakan. Gue benci sebenarnya membahas ini terus menerus. Berkutat bahkan berperang dengan hati dan otak gue hanya untuk mencari sebuah jawaban dari pertanyaan ‘siapa gue?’. Sayangnya, berkali-kali gue berkutat dengan itu, gue belum pernah menemukan jawabannya.

Kue ulang tahun yang awalnya menemani gue, selama awal-awal tahun kehidupan gue perlahan sirna karena keinginan gue sendiri. Gue menghilangkan satu per satu yang seharusnya menjadi ciri khas dari perayaan ulang tahun itu sendiri, kue, lilin, kado, bahkan ucapan selamat ulang tahun. Kalo ada syukur, kalo ga ada peduli amat. Nah, lihat kan betapa ignorance-nya gue terhadap diri gue sendiri. Tetapi, yang mengejutkannya sekarang ialah, gue malah merindukan masa-masa itu, dimana sebuah kue ulang tahun dan lilin sejumlah usia bertengger di depan gue, make a wish first and then blow the light. Masa itu, yeah. Masa kecil, dimana kehidupan gue tidak seberat sekarang, saat dimana gue masih bisa bercanda ria dan tertawa. Sedikit beban hidup yang ditanggung gue pada masa kecil, dan gue merindukannya.

Dilain hal, satu ciri khas yang tidak pernah hilang dari diri gue, dan baru gue sadari saat gue beranjak dewasa ialah Sang Hujan. Gue mencintai suasana itu sangat. Berlawanan dengan sifat temperamental gue, gue membutuhkan sang hujan berdampingan di sebelah gue. Auranya menenangkan, menyejukkan namun hangat meskipun terkadang angin yang datang bersama sang hujan membawa dingin yang sanggup membuat tubuh mengigil kedinginan. Tidak. Gue. Masih. Mencintai. Hujan.

Seperti yang gue contohkan diatas. Filosofi sebuah cake yang hampir hilang maknanya dalam hidup gue bisa berarti bahwa hidup gue selama 17 tahun ini dinamis, berkembang. Karena yang pada awalnya gue membutuhkan cake itu, secara perlahan menghilangkannya. Namun disisi lain soal hujan, dan betapa gue masih mencintai sang hujan itu sendiri membuktikan masih ada beberapa bagian dari diri gue yang bersifat statis, tetap. Hanya saja gue masih belum tahu bagian manakah yang berkembang dan masih tetap begitu adanya.

Sifat kekanakan gue lah yang masih bertahan atau sifat temperamental gue kah? Gue tidak tahu sama sekali. Sejenak gue menutup mata, berusaha menyesapi setiap detik yang ada. Dan yah, gue tidak begitu peduli siapa gue. Yang penting dalam detik ini ialah, gue merasa berterima kasih sangat pada Tuhan Yang Maha Esa karena masih memberikan kesempatan pada gue untuk hidup dan merasakan lembar lain kehidupan yang mungkin belum pernah gue sentuh.

Sayangnya, terkadang gue merasa takut untuk melangkah ke depan. Membuka lembaran baru yang entah kenapa terasa bagai membuka kotak kado karena gue tidak tahu apa isinya, mungkin saja isinya bisa membuat gue tersenyum bahagia karena sesuai dengan harapan gue, atau malah menjadi kotak pandora yang berisi ketidakbahagiaan yang mengerikan.

 

(menghela nafas)

 

In this, 29th May 2009. What could I say, eh?

Nothing.

 

Sekali lagi, gue merefleksikan diri dan menemukan bahwa gue masih tetap gue—untungnya— Seorang gadis yang baru beberapa waktu lalu menginjak usia 17 tahun dengan ketidak pastian arah bahkan tujuan hidup. Dan inilah gue, sekali lagi.

Another Thought

May 23, 2009 - Leave a Response

 

Image Hosted by ImageShack.us

image from here

 

Would you call me if you can

I’m waiting underneath it all
All the mess and the chaos you’ve I’ve caused
Now you’re nowhere to be found

So tell me I’m trying to define
The meaning of unconditional love
When it puts you my faced down on the ground
You’re out there sailing away

And maybe a deadly storm will come and catch you me
Lightning thunder will strike you me
It hits your my head so hard you’ll come to me

It’s all right I totally understand
They’re greener on the other side
And the sun will shine brighter everyday
I guess that’s where all the light goes

And I’m ok, I hope the best for you
Remember to go out and have fun
You could spend the day out in the ocean
I heard the water’s fine over there

I guess I ‘ll learn to come by without you
And somewhere out there I’m sure God is watching me close

But then maybe His deadly storm will come and catch you me
Lightning thunder will strike you me
It hits your head so hard you’ll come to me

 

songs by Adhitia Sofyan 

Once again, I lied

May 21, 2009 - Leave a Response

I smiled at you, always. A fake smile, I know it. But you faced it differently. You thought that is my true smile. But, yeah it isn’t. It’s fake because I dont want you to know what I truly feel.

I laughed cheerfully. Still a fake one. To manipulate you and many others people around us, that nothing happened between us. Me and you, still same.

Friend are we? “Yes, we are.” you said. I answered it only in my heart. “No, because I don’t want you to be my friend.” Once again, I resist to answer and responded what he said only with a smile.

I am Me and You are You. That’s what we are supposed to be. Eventhough I could only whispered that l-o-v-e words to myself. I feel it’s all enough for me. I won’t ask more. Let’s live our life. I know it’s already too late. So once again my dearest, live your life and I’ll live mine.

 

Ps: this is all the things that comes on my mind recently. i don’t feel about it either. it’s a fiction, really.

Melancholy

May 14, 2009 - Leave a Response

Hari ini, aneh. Gue terbangun dalam keadaan langsung bangun begitu saja ketika mendengar alarm. Padahal biasanya gue akan mematikan alarm lalu menarik lagi selimut itu menutupi badan gue. Dan gue baru sadar, hari ini, pagi ini, hujan turun, sedari tadi.

Sayup-sayup pelan gue mendengar speaker iPod gue masih berbunyi mendendangkan sebuah lagu indah, lagu akustik seperti biasa, bedanya dengan sound effect hujan didalamnya, membuat suasana ini menjadi semakin melankolis. Melankolis, menyedihkan, dan gue teringat kemarin.

Sore hari, kira-kira 17:00

Tepat setelah laptop gue kembali dan lagi, seperti biasa gue langsung menyalakannya, lalu memilih Mozilla Firefox dan membuka situs itu. Lo tahulah apa— yang akhir-akhir ini selalu gue buka dan membuat gue merasakan sesuatu yang berubah di dalam diri gue. Dan disitulah dia, pengumuman itu. Pengumuman yang pada awalnya tidak bisa sama sekali gue percaya. Meskipun itu-lah kenyataannya.

Tapi gue masih belum percaya meskipun nama itu memang nama-nya, gue terburu-buru membuka profile-nya, mengecek apakah benar itu dia, dan ya, itu memang dia, cherie. Masih belum percaya, gue kembali bertanya pada temen gue yang mengenalkan gue dengannya di Y!M, dan disitu pula gue menyadari status orang-orang sudah berubah, mirip. Hanya satu hal yang dibahas, dia— kau, temanku.

Kembali, gue terpuruk, terlalu tidak percaya mendengar itu. Gue mengubah status dan ya ada yang menyapa. Gue kembali memastikan untuk kesekian dalam keadaan panik, meskipun tidak ada setetes air mata pun yang keluar. Jahat? Iya, mungkin. Tapi dititik inilah, saat gue mulai membicarakannya lagi, gue menangis, betul betul menyadari kalau dia sudah pergi. Pergi, secepat itu.

‘Kau tidak adil, Tuhan.’

Berapa kali kata-kata itu tercekat di tenggorokan gue. Gue betul-betul ingin mengungkapkannya, tapi gue tidak bisa, karena ini juga kehendak-Nya. Semua ini tidak ada yang salah, gue tahu. Ini hanya takdir, iya gue ngerti. Tapi kenapa secepat ini? Bahkan gue belum kenal lama dengannya. Belum sampai hitungan satu bulan, dan dia pergi.

Gue marah, jelas. Entah pada siapa. Karena gue tidak bisa menyalahkan siapapun disini. Si-a-pa-pun. Catat itu. Bahkan sang takdir pun tidak pantas untuk menjadi pelampiasan gue. karena takdir bergerak seiring perintah-Nya. Dan perintah-Nya itu mutlak.

Gue kembali membuka semua arsip percakapan gue dengannya, dan gue baru sadar gue cuma punya 1 arsip. Hanya 1 dan ga akan gue hapus sampai kapanpun. Begonya, gue kenal dia pada masa-masa yang sangat ingin gue lupakan. Tapi gue juga ingat betapa gue dan dia cuma anak IPS berdua yang tersesat dalam percakapan anak IPA pada awalnya.

Awalnya, perkenalan itu. Gue sama sekali tidak menyesali semua perkenalan dengan orang-orang yang gue kenal, baik orang yang dekat dengan gue, orang yang cuma berjalan sambil lalu, dan orang yang menjadi musuh gue. Sumpah, tidak ada satu kali pun gue menyesal pernah mengenal orang-orang itu. Tapi— dia berbeda. Ada yang beda saat mengenal-nya. Karena ya, kita bertemu karena kesamaan.

Kalau bercerita tentang itu pasti tidak akan habisnya, dan gue mengucap nama-nya berkali-kali. Dan dengan ke-naif-an gue, gue berharap gue pernah menemuinya, atau dia hadir meskipun dalam mimpi gue saja. Tapi sayangnya dia tidak datang. Gue ingin menemuinya, sungguh.

Gue tidak sanggup berkata-kata lagi sekarang. Gue lelah karena gue tahu, toh dia tidak akan membaca ini. Tapi ada satu hal yang perlu gue beri tahu padanya. Gue menyayangi-nya, meskipun kita belum pernah bertemu, ya, gue menyayanginya.

We do not die because we have to die; we die because one day, and not so long ago, our consciousness was forced to deem it necessary.

 

I try to say it once, so hear it, please; So good night, friend. Have a nice dream. And I am here, pray for you, always

About Ali and Freja

May 8, 2009 - Leave a Response

Freja Beha Erichsen

Photobucket

<Photobucket

Ali Stephens

Photobucket

Photobucket

I love both of this girl.

I love their style, and as always I love girl who born with natural brown hair. And finally I found them instead searching for my visualization for my chara at IndoHogwarts.

For Freja, I love her when she got long hair, she looks beautiful when she had a long hair. But her style is great! I love her boyish style.

And for Ali, I love her face. looks like Italiano, I guess? But it’s great to found a young model like her. and I’m surprised when i know she got a same age like me! Unbelievable, isn’t it?

Damisel en una Situació Desesperada

May 4, 2009 - Leave a Response

Damsel in desperate.

Good enough to begin the week right?

Okay, I would like to give standing ovation to myself of course.

Ironis.

Racauan

May 1, 2009 - Leave a Response

Gue duduk di kursi panjang yang terletak di lorong sempit lantai dua gedung kelas 3, tepatnya di depan kelas gue. Langit  yang tadi pagi warnanya biru cerah dan bersih, baru gue sadari berubah warna menjadi putih pucat, dan sejauh mata gue memandang tak tampak sedikit pun warna biru disana.

Dan hujan saya datang, akhirnya.

Hawa lembab serta semilir angin baru gue rasakan saat gue melangkah keluar dari ruang kelas gue. Samar-samar dari bawah sana tercium juga bau rumput dan tanah basah. Gue memandangi sendu langit berwarna putih pucat itu. Terlarut dalam imaji indah yang gue buat sendiri. Dan hujan itu masih turun, semakin deras menghujam bumi.

Entah sudah berapa hari itu semua terjadi. Konflik sepele berkepanjangan yang entah kenpa selalu berulang tiap tahunnya. Sebuah masalah yang berakar dari kesalah pahaman kecil dan dibesar-besarkan. Sampai pada akhirnya menjadi racun yang mengalir dalam tubuh manusia itu sendiri.

Dan gue masih duduk disini termenung. Kalau kalian tanya apa yang gue pikirkan sekarang ini. Dengan tegas gue akan menggeleng singkat dan menjawab tidak tahu. Karena otak saya kosong, begitu pula hati saya.

Sapaan ringan dari temen gue menyadarkan gue. Sekarang, gue mulai berdiri, melangkahkan kaki  turun dari lantai dua. Sesekali beberapa sosok manusia lain yang tervisualisasi di retina gue menyapa gue ramah. Dan gue hanya bisa menjawab sapaan itu dengan senyum kecil nan singkat. Bukannya sombong, tapi gue sedang terburu-burur karena sekarang gue diharuskan menerobos hujan itu tanpa payung. Hanya menggunakan jaket rohis punya temen gue untuk menutupi kepala gue, dan itu, dipake berdua!  Ah yah, bayangkan betapa basah kuyupnya gue.

Dan hujan tadi sudah berubah menjadi hujan deras.

Pada akhirnya sekarang gue sudah duduk manis didalam mobil temen gue untuk menebeng pulang. Sesekali terlontar candaan singkat dari bibir kami. Dapat disimpulkan, menebeng itu menyenangkan saudara-saudara! Selain gratis , lo masih bisa bercanda sama temen lo bahkan setelah pulang sekolah. Muakakakaka *digiling*.

Kembali pada langit berwarna sendu tadi dan masalah,

Kenapa hidup itu penuh masalah? Pertanyaan retoris. Padahal jawabannya sudah jelas. ‘Karena masalah adalah bumbu kehidupan’. Dan, hell yeah. Gue bersumpah akan merutuki siapapun itu yang mengeluarkan kata-kata (sok) bijak tadi.

Kalau bisa tidak ada masalah kenapa harus ada masalah coba?

Ah, gue mulai meracau, saudara-saudara.

Dan yang sekarang gue temukan pada akhirnya ialah pintu pagar rumah gue. Pagar kayu berwarna coklat dimana didalamnya gue hidup sebagai gue sendiri. Bukan sebagai orang yang di’ingin’kan. Tapi disinilah semua prolog, isi, dan epilog hidup gue berada.

 

And lets the story begin—