About a cake, a rain and also about myself

 

Image Hosted by ImageShack.us 

image from here

17 years. Was it all worth, Athiah?

Buat gue, mengulang hari lahir gue bukanlah suatu kesenangan yang mestinya dirayakan. Ketika jarum jam berdentang ketika menunjuk angka-nya, angka dimana hari jadi itu sudah tiba, kedua jarum kurusnya menunjuk angka yang sama, gue malah berjengit. Membayangkan betapa tuanya gue sekarang ini. But, Thanks God I am still alive. Klise, tapi inilah kenyataannya. Gue berusaha me-rewind ulang apa yang sudah terjadi di masa lalu. Baik, buruk, suka, duka, tawa, tangis, semua ingatan bercampur hari ini. Sweet seventeen kata orang. Gue meng-iyakan itu tentu. Siapa yang tidak senang ketika ia menginjak usia 17 tahun? Gue pribadi senang kok, jujur. Hanya saja, renungan akan masa lalu dan bayangan masa depan yang masih samar menghantui gue lagi, untuk kesekian kali.

Ketika gue berkaca lagi tentang siapa gue, gue merasa diri gue menjadi seorang yang abstrak. Tanpa arah, tanpa tujuan. Cuma satu hal yang gue tahu, gue ingin bahagia. Itu bisa disebut tujuan? Kalaupun iya, gue tidak pernah menemukan arah itu, selama 17 tahun gue hidup. Atau mungkin secara tidak sadar telah menjalani arah itu, hanya saja gue tidak sadar sama sekali. Naas.

Siapa gue? Dengan santainya gue akan mendeskripsikan diri gue sebagai orang yang datar, tatapan datar dengan nada datar. Benarkah? Gue gatau, gue tidak bisa mendeskripsikan diri gue sendiri sebenarnya. Gue bahkan tidak tahu siapa gue. Bukannya merasa hampa, tapi aneh. Cih lupakan. Gue benci sebenarnya membahas ini terus menerus. Berkutat bahkan berperang dengan hati dan otak gue hanya untuk mencari sebuah jawaban dari pertanyaan ‘siapa gue?’. Sayangnya, berkali-kali gue berkutat dengan itu, gue belum pernah menemukan jawabannya.

Kue ulang tahun yang awalnya menemani gue, selama awal-awal tahun kehidupan gue perlahan sirna karena keinginan gue sendiri. Gue menghilangkan satu per satu yang seharusnya menjadi ciri khas dari perayaan ulang tahun itu sendiri, kue, lilin, kado, bahkan ucapan selamat ulang tahun. Kalo ada syukur, kalo ga ada peduli amat. Nah, lihat kan betapa ignorance-nya gue terhadap diri gue sendiri. Tetapi, yang mengejutkannya sekarang ialah, gue malah merindukan masa-masa itu, dimana sebuah kue ulang tahun dan lilin sejumlah usia bertengger di depan gue, make a wish first and then blow the light. Masa itu, yeah. Masa kecil, dimana kehidupan gue tidak seberat sekarang, saat dimana gue masih bisa bercanda ria dan tertawa. Sedikit beban hidup yang ditanggung gue pada masa kecil, dan gue merindukannya.

Dilain hal, satu ciri khas yang tidak pernah hilang dari diri gue, dan baru gue sadari saat gue beranjak dewasa ialah Sang Hujan. Gue mencintai suasana itu sangat. Berlawanan dengan sifat temperamental gue, gue membutuhkan sang hujan berdampingan di sebelah gue. Auranya menenangkan, menyejukkan namun hangat meskipun terkadang angin yang datang bersama sang hujan membawa dingin yang sanggup membuat tubuh mengigil kedinginan. Tidak. Gue. Masih. Mencintai. Hujan.

Seperti yang gue contohkan diatas. Filosofi sebuah cake yang hampir hilang maknanya dalam hidup gue bisa berarti bahwa hidup gue selama 17 tahun ini dinamis, berkembang. Karena yang pada awalnya gue membutuhkan cake itu, secara perlahan menghilangkannya. Namun disisi lain soal hujan, dan betapa gue masih mencintai sang hujan itu sendiri membuktikan masih ada beberapa bagian dari diri gue yang bersifat statis, tetap. Hanya saja gue masih belum tahu bagian manakah yang berkembang dan masih tetap begitu adanya.

Sifat kekanakan gue lah yang masih bertahan atau sifat temperamental gue kah? Gue tidak tahu sama sekali. Sejenak gue menutup mata, berusaha menyesapi setiap detik yang ada. Dan yah, gue tidak begitu peduli siapa gue. Yang penting dalam detik ini ialah, gue merasa berterima kasih sangat pada Tuhan Yang Maha Esa karena masih memberikan kesempatan pada gue untuk hidup dan merasakan lembar lain kehidupan yang mungkin belum pernah gue sentuh.

Sayangnya, terkadang gue merasa takut untuk melangkah ke depan. Membuka lembaran baru yang entah kenapa terasa bagai membuka kotak kado karena gue tidak tahu apa isinya, mungkin saja isinya bisa membuat gue tersenyum bahagia karena sesuai dengan harapan gue, atau malah menjadi kotak pandora yang berisi ketidakbahagiaan yang mengerikan.

 

(menghela nafas)

 

In this, 29th May 2009. What could I say, eh?

Nothing.

 

Sekali lagi, gue merefleksikan diri dan menemukan bahwa gue masih tetap gue—untungnya— Seorang gadis yang baru beberapa waktu lalu menginjak usia 17 tahun dengan ketidak pastian arah bahkan tujuan hidup. Dan inilah gue, sekali lagi.

Advertisement

There are no comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.