Hari ini, aneh. Gue terbangun dalam keadaan langsung bangun begitu saja ketika mendengar alarm. Padahal biasanya gue akan mematikan alarm lalu menarik lagi selimut itu menutupi badan gue. Dan gue baru sadar, hari ini, pagi ini, hujan turun, sedari tadi.
Sayup-sayup pelan gue mendengar speaker iPod gue masih berbunyi mendendangkan sebuah lagu indah, lagu akustik seperti biasa, bedanya dengan sound effect hujan didalamnya, membuat suasana ini menjadi semakin melankolis. Melankolis, menyedihkan, dan gue teringat kemarin.
Sore hari, kira-kira 17:00
Tepat setelah laptop gue kembali dan lagi, seperti biasa gue langsung menyalakannya, lalu memilih Mozilla Firefox dan membuka situs itu. Lo tahulah apa— yang akhir-akhir ini selalu gue buka dan membuat gue merasakan sesuatu yang berubah di dalam diri gue. Dan disitulah dia, pengumuman itu. Pengumuman yang pada awalnya tidak bisa sama sekali gue percaya. Meskipun itu-lah kenyataannya.
Tapi gue masih belum percaya meskipun nama itu memang nama-nya, gue terburu-buru membuka profile-nya, mengecek apakah benar itu dia, dan ya, itu memang dia, cherie. Masih belum percaya, gue kembali bertanya pada temen gue yang mengenalkan gue dengannya di Y!M, dan disitu pula gue menyadari status orang-orang sudah berubah, mirip. Hanya satu hal yang dibahas, dia— kau, temanku.
Kembali, gue terpuruk, terlalu tidak percaya mendengar itu. Gue mengubah status dan ya ada yang menyapa. Gue kembali memastikan untuk kesekian dalam keadaan panik, meskipun tidak ada setetes air mata pun yang keluar. Jahat? Iya, mungkin. Tapi dititik inilah, saat gue mulai membicarakannya lagi, gue menangis, betul betul menyadari kalau dia sudah pergi. Pergi, secepat itu.
‘Kau tidak adil, Tuhan.’
Berapa kali kata-kata itu tercekat di tenggorokan gue. Gue betul-betul ingin mengungkapkannya, tapi gue tidak bisa, karena ini juga kehendak-Nya. Semua ini tidak ada yang salah, gue tahu. Ini hanya takdir, iya gue ngerti. Tapi kenapa secepat ini? Bahkan gue belum kenal lama dengannya. Belum sampai hitungan satu bulan, dan dia pergi.
Gue marah, jelas. Entah pada siapa. Karena gue tidak bisa menyalahkan siapapun disini. Si-a-pa-pun. Catat itu. Bahkan sang takdir pun tidak pantas untuk menjadi pelampiasan gue. karena takdir bergerak seiring perintah-Nya. Dan perintah-Nya itu mutlak.
Gue kembali membuka semua arsip percakapan gue dengannya, dan gue baru sadar gue cuma punya 1 arsip. Hanya 1 dan ga akan gue hapus sampai kapanpun. Begonya, gue kenal dia pada masa-masa yang sangat ingin gue lupakan. Tapi gue juga ingat betapa gue dan dia cuma anak IPS berdua yang tersesat dalam percakapan anak IPA pada awalnya.
Awalnya, perkenalan itu. Gue sama sekali tidak menyesali semua perkenalan dengan orang-orang yang gue kenal, baik orang yang dekat dengan gue, orang yang cuma berjalan sambil lalu, dan orang yang menjadi musuh gue. Sumpah, tidak ada satu kali pun gue menyesal pernah mengenal orang-orang itu. Tapi— dia berbeda. Ada yang beda saat mengenal-nya. Karena ya, kita bertemu karena kesamaan.
Kalau bercerita tentang itu pasti tidak akan habisnya, dan gue mengucap nama-nya berkali-kali. Dan dengan ke-naif-an gue, gue berharap gue pernah menemuinya, atau dia hadir meskipun dalam mimpi gue saja. Tapi sayangnya dia tidak datang. Gue ingin menemuinya, sungguh.
Gue tidak sanggup berkata-kata lagi sekarang. Gue lelah karena gue tahu, toh dia tidak akan membaca ini. Tapi ada satu hal yang perlu gue beri tahu padanya. Gue menyayangi-nya, meskipun kita belum pernah bertemu, ya, gue menyayanginya.
We do not die because we have to die; we die because one day, and not so long ago, our consciousness was forced to deem it necessary.
I try to say it once, so hear it, please; So good night, friend. Have a nice dream. And I am here, pray for you, always