Racauan

Gue duduk di kursi panjang yang terletak di lorong sempit lantai dua gedung kelas 3, tepatnya di depan kelas gue. Langit  yang tadi pagi warnanya biru cerah dan bersih, baru gue sadari berubah warna menjadi putih pucat, dan sejauh mata gue memandang tak tampak sedikit pun warna biru disana.

Dan hujan saya datang, akhirnya.

Hawa lembab serta semilir angin baru gue rasakan saat gue melangkah keluar dari ruang kelas gue. Samar-samar dari bawah sana tercium juga bau rumput dan tanah basah. Gue memandangi sendu langit berwarna putih pucat itu. Terlarut dalam imaji indah yang gue buat sendiri. Dan hujan itu masih turun, semakin deras menghujam bumi.

Entah sudah berapa hari itu semua terjadi. Konflik sepele berkepanjangan yang entah kenpa selalu berulang tiap tahunnya. Sebuah masalah yang berakar dari kesalah pahaman kecil dan dibesar-besarkan. Sampai pada akhirnya menjadi racun yang mengalir dalam tubuh manusia itu sendiri.

Dan gue masih duduk disini termenung. Kalau kalian tanya apa yang gue pikirkan sekarang ini. Dengan tegas gue akan menggeleng singkat dan menjawab tidak tahu. Karena otak saya kosong, begitu pula hati saya.

Sapaan ringan dari temen gue menyadarkan gue. Sekarang, gue mulai berdiri, melangkahkan kaki  turun dari lantai dua. Sesekali beberapa sosok manusia lain yang tervisualisasi di retina gue menyapa gue ramah. Dan gue hanya bisa menjawab sapaan itu dengan senyum kecil nan singkat. Bukannya sombong, tapi gue sedang terburu-burur karena sekarang gue diharuskan menerobos hujan itu tanpa payung. Hanya menggunakan jaket rohis punya temen gue untuk menutupi kepala gue, dan itu, dipake berdua!  Ah yah, bayangkan betapa basah kuyupnya gue.

Dan hujan tadi sudah berubah menjadi hujan deras.

Pada akhirnya sekarang gue sudah duduk manis didalam mobil temen gue untuk menebeng pulang. Sesekali terlontar candaan singkat dari bibir kami. Dapat disimpulkan, menebeng itu menyenangkan saudara-saudara! Selain gratis , lo masih bisa bercanda sama temen lo bahkan setelah pulang sekolah. Muakakakaka *digiling*.

Kembali pada langit berwarna sendu tadi dan masalah,

Kenapa hidup itu penuh masalah? Pertanyaan retoris. Padahal jawabannya sudah jelas. ‘Karena masalah adalah bumbu kehidupan’. Dan, hell yeah. Gue bersumpah akan merutuki siapapun itu yang mengeluarkan kata-kata (sok) bijak tadi.

Kalau bisa tidak ada masalah kenapa harus ada masalah coba?

Ah, gue mulai meracau, saudara-saudara.

Dan yang sekarang gue temukan pada akhirnya ialah pintu pagar rumah gue. Pagar kayu berwarna coklat dimana didalamnya gue hidup sebagai gue sendiri. Bukan sebagai orang yang di’ingin’kan. Tapi disinilah semua prolog, isi, dan epilog hidup gue berada.

 

And lets the story begin—

There are no comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.