Gue— gue mau marah boleh? Gue mau ngeluarin unek-unek gue boleh? Tapi masalahnya, ini tentang kalian. Kalian yang berusaha untuk gue sayangi, dan gue dekati, tapi kalian tak acuh, sehingga saya tetap— membenci.
Betapa gue berusaha mencintai NetWorld gue, betapa gue selalu berusaha untuk memahami kalian, untuk memaklumi kalian, tapi sayangnya— iya sayangnya, gue tidak bisa. Gue tidak dilahirkan untuk menjadi manusia yang ekstra sabar sehingga bisa memendam semua kemarahan gue, kejengkelan gue dan kernyitan yang selalu bersarang di dahi gue ketika kalian mulai meracau. Iya, gue sebut meracau. Jahat kan gue? Karena kalian memaksa gue bertopeng, kawan. Dan gue jahat, karena gue benci NW.
List Y!M yang selalu saja membuat gue muak, pundung, dan tersisih. Dari 72 list Y!M—yang notabene gue kelompokkan terpisah karena kalian NW friends gue (seharusnya)—berapakah yang secara rajin IM-an sama gue? Berapa? Berapa? BERAPA? Seperempatnya bahkan gue hitung belum tidak sampai. Lucu, silahkan tertawa. Prinsip gue nih ya, gue punya Y!M kalian karena setidaknya gue kenal kalian, sapa gue dan gue dengan senang hati akan ngobrol dengan kalian meskipun gue bertopeng. Nice, dan FYI gue selalu senyum kok meskipun terpaksa. Selama kalian baik sama gue, selama kalian tidak mengusik gue lebih lanjut, gue tidak akan berkoar-koar MARAH kepada kalian.
Dan tanyakan kenapa gue marah pada kalian kali ini.
Satu, karena gue kesal kepadanya. Ia siapa? Ah, gaperlu gue sebut nama disini, cherie. Dia— betapa gue ingat dia dulu baik banget sama gue. Betapa gue menaruh respek tinggi ke dia. Betapa gue menyayanginya. Tapi sekarang, apa? APA? Gue sampah buat lo, iya kan, Mio Caro? Silahkan lo stab gue dari belakang, Mio Caro. Silahkan lo pamer ke gue tentang temen-temen lo, keluarga lo. Gue mempersilahkan lo dengan setulus hati gue. Dan catatan khusus-nya, gue tidak iri dengan segala cerita lo. Tapi gue beginilah adanya, Mio Caro. Tidak akan pernah bisa selamanya berbaik hati— ibaratnya dinamit, lo udah menyalakan sumbu dinamit itu— dan bukannya lo malah mematikannya, lo menyiramnya dengan bensin lagi dan DUAR! Gue meledak, Mio Caro. Sekarang. Meskipun gue yakin, lo ga akan pernah baca ini dan lo juga tidak akan pernah sadar apa yang gue rasakan ke elo.
Kedua, yang pasti. Jangan. Pernah. Invite. Gue. Ke. Conference. Apapun. Kecuali. Khusus. Asrama. Iya, jangan pernah karena GUE TIDAK KENAL MEREKA. Mau jadi apa gue disana hah? Kambing congek? Jadi orang yang totally invisible padahal gue ada disana? Gue disana. NICK ATHIAA ADA DISANA! Dan jadi apakah gue disana, kawan? Gue jadi invisible, hanya sang pembaca conference. Tidak ada interaksi sama sekali, kecuali di awal-awal. Bahkan untuk sekedar menyapa aja, tidak ada. Sekali lagi, gue berikan senyuman manis gue untuk kalian, kawan. Manis, namun sarkastis.
Dua contoh diatas seharusnya sudah lebih dari cukup untuk membangkitkan kemarahan gue, kalo itu gue yang dulu. Tapi kini gue lebih memilih untuk diam di balik laptop gue dan hanya mengamati. Hidup sebagai sang pengamat yang selalu tersenyum manis, bertopeng pula. Dan gue awalnya memilih untuk membiarkan saja, membiarkan untuk tetap berjalan apa adanya. Meskipun— gue muak. Muak banget.
Hmm, gue kembali menghela nafas. Berkali-kali, berulang-ulang. Helaan nafas yang keras itu membuktikan bahwa gue sudah terlampau lelah untuk berpikir, jadi gue memilih meng-iyakan. Hanya sebuah anggukan serta senyuman kecil yang menyiratkan ekspresi setuju akan kepedihan yang tidak bisa gue share ke semua orang ini dan menyedihkannya lagi gue alami.
Hello people, I am here.
Gue, selalu ingin memberikan nasihat untuk mereka, kawan-kawan NW gue yang selalu saja mengeluhkan apapun. Terutama mengenai RW mereka. Betapa menempelnya di otak gue, mereka selalu mengeluhkan RW mereka yang katanya mereka tidak dihargai oleh orang-orang di RW mereka. Dan gue marah, jelas. Karena gue merasa dihargai oleh orang-orang yang ada di RW tetapi tidak dengan di NW. Setidaknya dulu gue membanggakan NW gue, tapi pada kenyataannya apa? Senyum manis lagi kan gue?
Ppl, after all hidup itu menyenangkan kok. Maupun RW sama NW kan keduanya harus berjalan, berkesinambungan. Kita hidup di Realworld people, meskipun lo berusaha menyebutnya Networld tetap saja hitungannya adalah Realworld. Kita, manusia. Makhluk nyata. Bukan chara-chara fiktif yang kalian bikin itu. Kita hidup, kita ada. Kita nyata. Dan kita real. Sebenci-bencinya lo sama RW lo, lo akhirnya akan berpulang pada mereka. Sebenci-bencinya lo pada keluarga lo, sadar ga sih kalo mereka the one and only yang akan care sama lo? Meskipun lo punya aib sebagaimanapun, sebesar apapun. Cuma mereka yang bisa nerima lo, terutama orang tua lo. Karena lo darah daging mereka, kawan.
Rumput tetangga memang lebih hijau, kok.
Kalian sadar? Kalian tahu sebenernya. Cuma hati kecil kalian tidak bisa menerima dan terus lari. Padahal ya, hidup itu tantangan, dan harus dijalani. Bukannya mesti lari begitu saja. Memangnya kalian bisa memilih antara RW dan NW? Jadi kalau kalian benci sama RW kalian kabur ke NW dan begitupula sebaliknya? Cih, ga gitu juga kali. RW dan NW harus berkesinambungan, bagaikan Yin dan Yang mereka saling melengkapi. Gue benci NW dan gue berusaha lari. Tapi buktinya gue tidak lari dan berusaha menghadapi apapun resikonya. Meskipun itu nyakitin hati gue sendiri. Gue masih disini, begitupun dengan keadaan Realworld gue. Gue masih bertahan di keduanya.
Tidak bisa pergi, hanya mengurangi. Dan jangan jadikan mereka berdua pelarian. Terutama NW, kalo boleh jujur. Karena hidup lo ga selamanya akan di Networld, hidup lo akan tetap di Realworld, berputar terus di Realworld. Karena juga, Networld bagian dari Realworld. Kalian tidak bisa benci realworld kalian begitu saja. Dan begitu pula gue, sebenci-bencinya gue dengan kalian, tahukah kalian gue sayang kalian?
Gue sayang kalian, sungguh. Karena Networld bukan hanya milik gue tapi milik kita. Kita teman, dan seharusnya saling mengerti. Gue harap kalian mengerti. Tidak mesti sekarang, tetapi suatu hari nanti. Semua bisa berubah, tentram dan lebih bersahaja serta hangat. Gue sungguh berharap itu. Tidak ada membicarakan orang lagi dibelakang, tidak ada keluhan berlebih. Dan gue akan makin sayang lagi dengan kalian.





